Abstrak
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah menciptakan fenomena baru dalam dunia pendidikan: AI shadow learning, di mana siswa secara diam-diam mengandalkan AI untuk belajar, mengerjakan tugas, dan menyelesaikan ujian, seringkali tanpa sepengetahuan atau persetujuan guru. Artikel ini membahas bagaimana fenomena ini lahir, mekanismenya, dampaknya terhadap sistem pendidikan tradisional, serta tantangan etis dan strategi antisipasi yang diperlukan, terutama dalam konteks gejolak global.
Pendahuluan
Beberapa tahun terakhir, AI telah merambah ke dalam kelas-kelas di seluruh dunia. Di Indonesia, survei internet 2025 oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi Indonesia (APJII) menunjukkan 27,34% dari 8.700 responden menggunakan AI, meningkat dari 24,73% tahun sebelumnya. Generasi Z dan millennial menjadi kelompok pengguna AI terbesar, dengan 43,98% mengakses konten pendidikan dan pembelajaran—lonjakan signifikan dari 21,84% tahun lalu. Menurut saya, fenomena ini memberikan dampak besar bagi generasi muda. Di satu sisi, AI membuat pembelajaran menjadi lebih mudah dan personal. Namun di sisi lain, banyak siswa yang justru menggunakan AI untuk "menghindari belajar" daripada untuk memperdalam pemahaman.Dulu, siswa belajar dari guru, buku, dan diskusi di kelas. Sekarang, dengan ChatGPT dan platform AI lainnya, siswa bisa mendapatkan jawaban instan kapan saja—bahkan saat guru sedang menjelaskan di depan kelas.
Pembahasan
Bagaimana AI Shadow Learning Terjadi
Fenomena AI shadow learning terjadi ketika siswa menggunakan AI untuk mendapatkan jawaban cepat dengan usaha minimal—yang disebut oleh peneliti USC sebagai "executive help"—bukan untuk memperdalam pemahaman konsep ("instrumental help"). Survei nasional terhadap 1.000 mahasiswa AS menemukan bahwa sebagian besar menggunakan AI untuk executive help, mencari solusi cepat tanpa memahami konsep di baliknya.Di Indonesia, fenomena ini semakin nyata. Endri Aprianto, guru TIK di sebuah SMA negeri di Jakarta Timur, mengungkapkan keluh kesahnya: "Siswa mencari jawaban dari ChatGPT. Itulah realitasnya. Kami sudah susah payah membuat soal, tiba-tiba siswa menyelesaikannya dalam 30 menit. Ternyata, mereka menggunakan ChatGPT." Data global memperkuat gambaran ini. Di Inggris, hampir 7.000 mahasiswa tertangkap curang menggunakan AI pada tahun ajaran 2023–2024, jumlah yang tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Di Amerika Serikat, 43% mahasiswa telah menggunakan ChatGPT atau alat AI serupa, dengan 89% menggunakannya untuk pekerjaan rumah, 53% untuk esai, dan 48% untuk ujian di rumah. Bahkan 26% guru K-12 pernah menangkap siswa curang dengan ChatGPT.
Perubahan Cara Siswa Belajar
Sebelum adanya AI, siswa belajar melalui proses berpikir kritis: membaca, menganalisis, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Sekarang, banyak siswa yang melewatkan proses ini. Mereka mengetik pertanyaan ke ChatGPT, menyalin jawaban, dan mengumpulkannya—seringkali tanpa memahami materi.Sebuah studi dari USC menemukan bahwa siswa yang menerima dorongan dari profesor untuk menggunakan AI secara bijaksana jauh lebih mungkin menggunakan teknologi tersebut untuk pembelajaran yang bermakna. Ini menunjukkan bahwa bimbingan guru memainkan peran krusial dalam membentuk bagaimana siswa mendekati AI. Namun ironisnya, 66% dosen menggunakan AI untuk pembuatan konten secara diam-diam, sementara 54% guru khawatir akan digantikan oleh AI. Paradoks ini menciptakan lingkungan di mana baik siswa maupun guru saling "bermain bayangan" dengan AI.
Peluang dan Risiko AI dalam Pendidikan
Perkembangan AI membuka peluang besar. Pasar online tutoring global diproyeksikan mencapai USD 21,3 miliar pada 2033, dengan Asia Pasifik sebagai wilayah pertumbuhan tercepat (CAGR 13,4%). Di Indonesia, pasar AI tutor diproyeksikan tumbuh dari USD 320 juta pada 2025 menjadi USD 1,2 miliar pada 2031 dengan CAGR 24,5%. AI mampu memberikan pembelajaran personalisasi yang tidak mungkin dilakukan guru manusia secara manual. Platform seperti Khan Academy dengan Khanmigo-nya, dan model-model AI tutor generatif, dapat mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan dengan presisi "nano-level" dan memberikan umpan balik instan. Namun, risikonya pun besar. Studi menunjukkan bahwa akses AI tanpa batas yang memberikan jawaban langsung—bukan penjelasan—mengurangi pembelajaran konten yang mendasar. Penggunaan AI yang berlebihan untuk menulis mengurangi kemampuan siswa untuk menulis secara mandiri dari waktu ke waktu jika tidak dikelola dengan hati-hati.
Tantangan Etis dan Sosial
Beberapa tantangan utama meliputi:Kesenjangan Digital yang Memperdalam Ketidaksetaraan: AI tutor berkualitas tinggi seringkali berbayar dan memerlukan infrastruktur digital yang baik. Siswa dari keluarga berpenghasilan tinggi dapat mengakses tutor AI premium, sementara siswa kurang mampu terjebak dengan pendidikan tradisional yang kualitasnya tidak merata. Penurunan Kemampuan Berpikir Kritis: Endri Aprianto mengkhawatirkan bahwa ketergantungan pada chatbot AI berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kritis siswa. "Siswa tidak lagi memahami konsep pembelajaran secara utuh karena merasa semua pertanyaan guru bisa dijawab oleh AI." Krisis Kepercayaan antara Guru dan Siswa: 81% pendidik khawatir AI meningkatkan risiko kecurangan, dan dua pertiga guru melaporkan menjadi semakin tidak percaya pada siswa mereka. Kehilangan Keterampilan Sosial: Pembelajaran berbasis AI yang individualistis mengurangi interaksi sosial, diskusi kelompok, dan kolaborasi—keterampilan yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi.
Dampak Konflik Iran–AS–Israel terhadap AI Shadow Learning di Indonesia
Konflik militer yang memuncak pada awal 2026 memberikan pengaruh signifikan terhadap fenomena AI shadow learning di Indonesia.
Tekanan Ekonomi dan Akses Digital
Konflik di Timur Tengah menyebabkan harga minyak global melonjak, yang berimbas pada kenaikan biaya operasional data center dan infrastruktur internet. Bagi Indonesia, ini berarti potensi kenaikan biaya langganan platform AI dan layanan cloud yang menjadi tulang punggung AI tutor. Pelemahan rupiah akibat safe haven dolar AS membuat layanan AI berbasis langganan dalam mata uang asing semakin mahal. Siswa dari keluarga menengah ke bawah yang mengandalkan AI gratis atau berbayar murah akan semakin tertinggal, sementara siswa kaya tetap dapat mengakses tutor AI premium.
Ketidakpastian Investasi di Sektor EdTech
Arus modal keluar dari pasar obligasi Indonesia sebesar US$0,41 miliar sejak memanasnya konflik menunjukkan ketidakpastian investor. Startup EdTech lokal yang sedang berkembang menjadi lebih sulit mendapatkan pendanaan, memperlambat inovasi platform pembelajaran AI yang terjangkau untuk masyarakat luas.
Pergeseran Prioritas Belanja Negara
Beban fiskal akibat kenaikan harga minyak—setiap kenaikan US$1 per barel di atas asumsi APBN menambah defisit kas negara sekitar Rp6,7 triliun—memaksa pemerintah untuk mengalokasikan ulang anggaran. Program digitalisasi pendidikan dan distribusi perangkat ke sekolah-sekolah di daerah terpencil berpotikit terhambat, memperlebar kesenjangan digital yang sudah menjadi pemicu AI shadow learning.
Kesadaran akan Keterbatasan Teknologi
Di tengah gejolak global, masyarakat mulai menyadari bahwa ketergantungan pada teknologi asing berisiko. Jika platform AI tutor internasional mengalami gangguan akibat sanksi, perang siber, atau kebangkrutan—data pembelajaran jutaan siswa Indonesia bisa hilang atau disalahgunakan. Ini menjadi peringatan bahwa AI shadow learning yang tidak terregulasi adalah bom waktu.
Antisipasi dan Strategi dalam Perspektif Ilmu Lingkungan Bisnis
Dalam ilmu lingkungan bisnis, organisasi pendidikan perlu merespons faktor eksternal yang memengaruhi operasionalnya. Berdasarkan analisis lingkungan makro (PESTEL), berikut strategi antisipasi:
1. Regulasi dan Kebijakan yang Proaktif
Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah dengan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 yang memasukkan mata pelajaran Coding dan Artificial Intelligence (KKA) mulai kelas 5 SD. Namun, regulasi perlu diperkuat dengan:
- →Pedoman penggunaan AI di kelas yang jelas: kapan AI diperbolehkan, kapan dilarang, dan bagaimana mengatribusinya.
- →Sanksi untuk kecurangan AI yang proporsional, bukan penghukuman belaka.
- →Standar kurikulum AI yang kontekstual dengan kondisi Indonesia, tidak sekadar mengadopsi dari luar negeri.
2. Transformasi Peran Guru dari Pengajar menjadi Fasilitator
Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Peran mereka harus bertransformasi menjadi:
- →Fasilitator pembelajaran yang membimbing siswa menggunakan AI secara kritis.
- →Mentor yang mengajarkan etika penggunaan AI dan literasi digital.
- →Evaluator proses yang menilai bukan hanya hasil akhir, tetapi juga proses berpikir siswa.
Seperti yang diungkapkan oleh peneliti USC, "What matters most is ensuring that AI use is guided by those who have deep expertise in their content areas, and that students aren't left to figure things out on their own."
3. Pengembangan Platform AI Tutor Lokal
Ketergantungan pada platform AI asing berisiko tinggi. Indonesia perlu mengembangkan platform AI tutor lokal yang:
- →Berbahasa Indonesia dan dialek daerah.
- →Terintegrasi dengan kurikulum nasional.
- →Dapat diakses dengan biaya terjangkau atau gratis untuk sekolah negeri.
- →Data siswa disimpan di server dalam negeri untuk menjaga kedaulatan digital.
Pemerintah dapat bermitra dengan startup EdTech lokal seperti Ruangguru—yang memimpin adopsi AI EdTech di Indonesia dengan 61% pangsa pasar —untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan.
4. Penguatan Infrastruktur Digital dan Akses Merata
Untuk mengurangi kesenjangan digital yang memicu shadow learning:
- →Percepat pembangunan jaringan internet di daerah terpencil.
- →Berikan subsidi kuota data untuk siswa kurang mampu.
- →Distribusikan perangkat digital ke sekolah-sekolah yang membutuhkan.
Tanpa akses yang merata, AI shadow learning akan menjadi monopoli kelas menengah ke atas, memperdalam ketidaksetaraan pendidikan.
5. Literasi AI untuk Semua Pemangku Kepentingan
Literasi AI bukan hanya untuk siswa, tetapi juga untuk:
- →Guru: 55% guru mengaku kurang pelatihan AI dan menganggapnya sebagai hambatan terbesar.
- →Orang tua: perlu memahami bagaimana anak mereka menggunakan AI di rumah.
- →Siswa: perlu diajarkan bukan hanya cara menggunakan AI, tetapi juga cara mengevaluasi informasi, mengenali bias, dan memahami batasan teknologi.
Program Day of AI Indonesia, inisiatif dari MIT yang telah menjangkau 170 negara, dapat menjadi model untuk pelatihan literasi AI yang sistematis.
6. Pendekatan Hybrid: AI dan Manusia Bekerja Bersama
Solusi bukanlah memilih antara AI atau guru manusia, tetapi menggabungkan keduanya. Model blended learning yang efektif melibatkan:
- →AI untuk tugas-tugas repetitif: penilaian otomatis, latihan personalisasi, dan identifikasi kesenjangan.
- →Guru manusia untuk tugas-tugas yang memerlukan empati, kreativitas, dan pengambilan keputusan kompleks.
Seperti yang diungkapkan oleh KidsAiTools: "The AI-versus-traditional framing is a false choice. The question is how to combine the irreplaceable aspects of human teaching and learning—relationship, struggle, collaboration, embodied experience—with the genuine advantages of AI."
7. Manajemen Risiko dan Kontinuitas Pembelajaran
Di tengah volatilitas global, lembaga pendidikan perlu:
- →Memiliki rencana cadangan jika platform AI mengalami gangguan.
- →Mengembangkan konten pembelajaran lokal yang tidak sepenuhnya bergantung pada AI asing.
- →Membangun sistem penilaian alternatif yang tidak dapat dengan mudah dikerjakan oleh AI, seperti presentasi lisan, proyek kolaboratif, dan penilaian portofolio.
Pengaruh terhadap Traffic dan Aktivitas Digital
Konflik global dan tren AI shadow learning meningkatkan traffic internet secara signifikan. Siswa mencari platform AI untuk mengerjakan tugas, orang tua mencari informasi tentang dampak AI pada pendidikan, dan guru mencari strategi untuk mendeteksi kecurangan AI. Fenomena ini memberikan peluang bagi platform edukasi untuk meningkatkan engagement dengan konten yang relevan, namun juga menuntut tanggung jawab etis dalam menyajikan informasi.Aktivitas bisnis di sektor EdTech juga semakin meningkat. Dengan 76% siswa K-12 menggunakan ChatGPT mingguan untuk pekerjaan sekolah, permintaan akan platform pembelajaran AI terus tumbuh. Namun, pertumbuhan ini harus diimbangi dengan regulasi yang melindungi hak siswa dan menjaga kualitas pendidikan.
Kesimpulan
AI shadow learning bukan sekadar tren teknologi, melainkan transformasi fundamental dalam cara generasi muda mengakses dan mengonsumsi pengetahuan. Siswa tidak lagi pasif menunggu informasi dari guru; mereka aktif mencari jawaban dari AI, seringkali di luar pengawasan orang dewasa. Fenomena ini menantang fondasi sistem pendidikan tradisional yang didesain untuk era pra-AI.Konflik Iran–AS–Israel mengingatkan kita bahwa teknologi pendidikan tidak beroperasi dalam ruang hampa. Volatilitas ekonomi, pelemahan mata uang, dan fragmentasi regulasi global memengaruhi siapa yang memiliki akses ke AI tutor dan siapa yang tertinggal. Dalam perspektif ilmu lingkungan bisnis, kemampuan untuk menganalisis lingkungan eksternal, membangun ketahanan (resilience), dan mengadvokasi kebijakan yang melindungi ekosistem pendidikan menjadi kunci bertahan di era AI shadow learning.Di akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah "Apakah siswa menggunakan AI?"—karena jawabannya sudah pasti ya. Pertanyaannya adalah: "Bagaimana kita memastikan bahwa AI menjadi alat untuk berpikir, bukan pengganti berpikir?" Dan jawabannya terletak pada kolaborasi antara regulasi yang tegas, transformasi peran guru, inovasi platform lokal, dan literasi AI untuk semua.
Kajian mengenai fenomena belajar terselubung melalui kecerdasan buatan, dampak konflik geopolitik terhadap ekosistem pendidikan digital, serta strategi adaptasi lembaga pendidikan di era volatilitas ekonomi ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan tugas akademik di Universitas Amikom Yogyakarta.
Referensi
- →Kompas.id. (2025, 25 Agustus). Generasi Muda Indonesia Masih Membutuhkan Literasi Akal Imitasi Sedari Sekolah. Diakses dari https://www.kompas.id/artikel/en-generasi-muda-indonesia-masih-membutuhkan-literasi-akal-imitasi-sedari-sekolah
- →OpenAI. (2026, 6 Mei). Introducing ChatGPT Futures: Class of 2026. Diakses dari https://openai.com/index/introducing-chatgpt-futures-class-of-2026/
- →USC Today. (2025, 18 September). AI is Changing How Students Learn — or Avoid Learning. Diakses dari https://today.usc.edu/ai-is-changing-how-students-learn-or-avoid-learning/
- →Nerdynav. (2026, 25 Januari). ChatGPT Cheating Statistics (2025): Latest Facts on AI in Schools & Universities. Diakses dari https://nerdynav.com/chatgpt-cheating-statistics/
- →KidsAiTools. (2026, 19 Maret). AI vs Traditional Learning: What Parents Really Need to Know in 2026. Diakses dari https://www.kidsaitools.com/en/articles/ai-vs-traditional-learning-parents-guide
- →
COMMENTS
// sign in to leave a comment